Translate

Sabtu, 29 September 2012

Teknik Penulisan karya ilmiah Populer☺


Okey, sebelumnya mungkin saya udah lama banget ga ngepost di blog. Karena saya sudah mulai belajar membuat karya tulis ilmiah untuk lomba di KPU sekarang, saya ingin bagi tips untuk membuat karya tulis yang saya search di mbah google juga ehehehe, selamat membaca......☺

 
Teknik Penulisan karya ilmiah Populer
(Bahan Lokakarya Penulisan karya Imiah Poluper, Kerjasama LPICdan HMJ Tarbiah Stain Pontianak, 2 Mei 2009) Leo Sutrisno Pendidikan Fisika, PMIPA-FKIP, Untan
Prolog
Anak-anak adalah penulis alamiah yang masih polosyang selalu mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Yangmereka tulis kerap kali begitu segar dan mendalam.Tulisan mereka dapat membuat orang-orang di sekitarmereka melihat segala sesuatu dengan cara yang tidakpernah mereka lakukan sebelumnya. Saat ini, mungkinAnda telah jauh dari mereka, tetapi di lubuk hati Andamasih bermukim masa kanak-kanak itu.(
Bobbi DePortes & Mike Hernacki, 1999,
Quantum Learning, Pent: Alwiyah Abdurrahman, Bandung: Kaifa
1.Sudah saatnya kita mulai menulis
(Leo Sutrisno, 2009, Sudah saatnya kita mulai menulis. ForumLingkar Pena Kalimantan Barat, Canopy Indonesia, DinasPendidikan Kota Pontianak dan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Kalbar.Pontianak, 14 Maret 2009)
Kapan?
Sekarang juga. Tidak perluditunda. Ikan sepat ikan gabus. Kiancepat kian bagus.
Kenapa?
Banyak hal yang dapatdiungkapkanSalah satunya adalah menulis itumenjadi sarana untuk menunjukkanke-‘berada’-an/eksistensi diri kita.
Perlukah?
Ya, amat sangat perlu!. Setiap orang, termasuk saya, padahakekatnya unik dan otonom. Karena itu, pengakuan akan eksistensinyamerupakan salah satu dari kebutuhan dasar. Orang yang kehilanganeksistensinya berarti kehilangan jati dirinya. Ia tidak lagi ’di-orang-kan’.Bayangkan apa yang saya rasakan seandainya tidak ada satu orangpun yang di ruang ini mengenal saya. Sebaliknya, bayangkan apa yangsaya rasakan jika setiap orang yang ada di ruangan ini menyapa sayadengah tulus dan ramah. Karena itu, pengakuan eksistensi, sungguh sayaperlukan dan dambakan.
2. Persiapan awal untuk menulis
Runtuhkan semua tembok kendala?
a.Mitos: seorang penulis dapatmenulis sekali jadi.
Keliru!
Beberapa penulis memangmengatakan seperti itu. Tetapi, sebagian besar penulis, berulang kalimerevisi.
Misalnya: tulisan ini ditulis ulang hingga tiga kali.
 b.Mitos: sebelum menulis harus sudah tahu isi yang akandisajikan dengan lengkap.
Keliru lagi!
Banyak penulis memulai tulisannya begitu saja. Belakanganbaru menyusun oraganisasinya, strukturnya dan tentu juga isinya.Tulisan ini, dimulai dengan ‘mereka-reka’ isi danstrukturnya sambil mengendarai motor, menunggu anakke luar dari tempat les, menunggu istri selesai praktekselama dua hari. Baru kemudian memperoleh strukturnyasperti ini:
1.Pengantar
2.persiapan awal untuk menulis
3.Proses menulis
4.Penutup
c.Rasa takut keliru (baca: salah)
Keliru merupakan bagian dari suatu proses. Suatu yang kelirudapat diperbaiki sehingga betul. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam membuat tulisan yang mungkin akan keliru, yaitu: materi dankebahasaan.
a. Materi kurang tuntas
Materi yang tidak tuntas dipelajari akan menyebabkankekeliruan dalam tulisan. Kekeliruan materi dapat diperkecil dengancara menpelajari
setuntas mungkin materi yang akan ditulis.Ada dua cara yang saya pergunakan untuk mengetahuiketuntansan materi yang akan ditulis, yaitu: membuat peta konsep danmenulis cepat. Peta konsep adalah diagram yang menunjukkan hubunganantarkonsep dari suatu gagasan. Dalam selembar kertas kosongdituliskan ’semua’ konsep yang tercakup dalam gagasan itu secarahirahis. Konsep utama diletakkan di tengah-tengah bidang. Konsep yang
berada pada tingkat-tingkat di bawahnya digambarkan sebagai cabang,ranting, dan anak ranting. Lihat Contoh berikut.Sejumlah penulis lain menggunakan teknik menulis cepat apa yang dipikirkan. Baru kemudian dibaca ulang sambil menyelipkankekurangannya atau mencoret bagian-bagian yang ’kurang’ diperlukan/kurang relevan. Cara ini memerlukan waktu yang lebih lama dari cara yang pertama, selain memerlukan waktu dan tempat secara khusus.

Diagram 1: Peta konsep membuat tulisan yang baik
Membuat tulisan
Kendala
Proof
Persiapan
Menulis
Sharing
Revisi
Proses
Finalisasi
Takut keliruMelawan mitos

 berada pada tingkat-tingkat di bawahnya digambarkan sebagai cabang,ranting, dan anak ranting. Lihat Contoh berikut.Sejumlah penulis lain menggunakan teknik menulis cepat apa yang dipikirkan. Baru kemudian dibaca ulang sambil menyelipkankekurangannya atau mencoret bagian-bagian yang ’kurang’ diperlukan/kurang relevan. Cara ini memerlukan waktu yang lebih lama dari cara yang pertama, selain memerlukan waktu dan tempat secara khusus. Namun, secara keseluruhan begitu menulis cepat ini diakhir berartisudah sekitar 50% pekerjaan telah dilakukan.
b. Kekurang-mahiran berbahasa
Kekurang-mahiran bahasa juga dapat menyebabkan kekeliruan.Kekeliruan ini dapat menimbulkan perbedaan kesan pikiran sehinggagagasan yang dimuaksudkan penulis tidak seluruh sama dengan gagasan yang ditangkap oleh pembaca. Kekurang-mahiran bahasa dapat dikurangidengan melatih diri secara terus menerus. Tentu saja melengkapisarana-sarana kebahasaan juga sangat penting, misalnya: kamus, kamussinonim, ejaan, tanda-tanda baca dsb. Buku ’Komposisi’ karangan GorysKeraf sangat dianjurkan untuk dipelajari. Buku yang ditulis olehpengarang yang sama dengan judul ”Argumentasi dan narasi” sangatmembantu mengolah tulisan yang argumentatif – tulisan yang membuatpembaca ’menyetujui’ gagasan yang disampaikan penulis.
3. Proses menulis
Pada Diagram 1 disajikan bagan sebuah proses menulis yang baik.Proses itu dimulai dengan tahap persiapan, dikuti dengan tahap-tahap:menulis, sharing, merevisi, proof reading. Diakhiri dengan finalisasi.Tahap persiapan dalam menulis sajian ini sudah diutarakan padabaian 1 dan 2. Tahap menulis berupa menuliskan semua yang terkandungpada Diagram 1 itu.Namun, untuk mempertajam organisasi dan isinya, sering dinyatakansecara eksplisit topik dan tujuannya. Dalam topik yang sama tetapidengan tujuan yang berbeda ada kumungkinan oraganisasi serta isinyapun berbeda.
Contoh
1. Topik: Pelajar dan masa depan bangsa Tujuan: Menanamkan kesadaran semua pelajara agar dari sekarang mereka mempelajari ilmu pengetahuan dengan sungguh- sungguh dan mempertebal moralnya karena masa depan bangsa dan negara berada di tangan mereka.
2. Topik: Pelajar dan masa depan bangsa Tujuan: Meminta perhatian pemerintah agar dengan sungguh- sungguh menyediakan semua fasilitas pendidikan sehingga memungkinkan para siswa menerima pendidikan dengan baik
3. Topik: Pelajar dan masa depan bangsa Tujuan: Menanamkan rasa pengabdian yang mendalam dan tulus dari para guru sehingga mereka benar-benar mengamalkan panggilannya itu karena sikap dam moral para pemimpin masa depan banyak bergantung pada yang yang diperolehnya saat ini.
Tahap sharing dilakukan dengan menyerahkan tulisan ini ke istriuntuk dibaca dan diminta sarannya. Misalnya, bagian ini sebaiknya tidakditulis miring (draf awal ditulis miring karena dimaksudkan sebagaiilustrasi/contoh.Tahap revisi dan proof reading digabung. Merevisi sesuai dengan yang disarankan istri dan bagian-bagian yang ditemukan sendiri yangkurang ‘pas’. Tahap finalisasi lebih difokuskan pada ejaan, tanda baca,spasi dan tampilan akhir. Sehingga, ketika tulisan ini sampai ke tanganpembaca tidak ada satu pun kekeliruan kebahasaan (harapannya).
4. Jenis karya tulis dalam bidang pendidikan bagi guru
(Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Profesional TenagaKependidikan Dasar dan Menengah, 2002.
Petunjuk praktispenulisan karya tulis ilmiah di bidang pendidikan bagi jabatanfungional guru
)a. karya tulis hasil penelitian, pengkajian, atau evaluasib. karya tulis/makalah berupa kajian atau ulasanc. Tulisan ilmiah populerd. makalah yang disajikan dalam pertemuan ilmiahe. Buku pelajran atau modulf. diktat pelajrang. mengaliah bahasakan buku pelajaran(Guru boleh memilih salah satu yang dirasa paling kuat)
 5.karya tulis ilmiah populer
•Disebar-luaskan melalui media massa
•Anatomi1.Pendahuluan
•Judul
•Kata-kata kunci2.Isi
•Permaslahan
•Uraian teori
•Uraian fakta
•Upaya pemecahan masalah
•Simpulan dan saran3.Penunjang
•Daftar pustaka / Daftar rujukan
•Bio dataBukti fisik: berupa fotocopy atau guntingan media massa yangmemuat tulisan tersebut, disahkan KS, serta keterangan waktuditerbitkanKriteria: Bermanfaat bagi pendidika dan belum ada yangmembahas sebelumnyaNilai: 2/tulisan kesatuan
6. Contoh:
Garin Nugroho
Megawati Opera Sabun III
        Dalam dua seri artikel Kompas, Megawati Opera Sabun I dan II ( Mei2002 ), penulis mencoba memprediksi penokohan Megawati di tengah drama politik Indonesia. Lewat salah satu kajian Cultural Studies yang mulai populer,mencoba membandingkan drama politik dan citra tokoh politik seperti layaknyadramaturgi dan penokohan opera sabun.
        Mengingat Opera Sabun bukan wilayah hampa, kepopulerannyamerefleksikan psikologi komunal masyarakat terhadap impian model-modelkepahlawanan, konflik, ketertindasan hingga harapan .Pada artikel Megawati Opera Sabun I, yang babakan dramanya dipuncakikekalahan Megawati oleh Abdurrahman Wahid di Parlemen, penulis mencatat, citraMegawati yang lemah dan tertindas serta mengedepankan tertib hukum alias damaiadalah model tokoh dalam Opera Sabun, yang menjadikannya populer.Pada artikel Megawati Opera Sabun II, yang babakan dramanya dimulai saatMegawati mengganti Wahid menjadi Presiden, maka penulis mencatat bias darigaya politik Megawati, yakni sosok politikus yang tidak langsung memotong danmembongkar. Ia cenderung hati-hati, dan kompromi terhadap konflik.
        Kecenderungan gaya politik itu didukungsejarah drama politik yang mengelilinginya sejak kecil, yang penuh liku dan trauma politik. Maka,seperti layaknya karakter traumatik pada tokoh-tokohOpera Sabun, karakter cenderung penuh misteri,menjaga jarak, keras, tak peduli, penuh waspada,namun bisa berubah humanis, sering sentimetil yangemosional, mempunyai energi tersembunyi penuhdaya tahan, hingga penuh pemakluman dan pengayoman, namun bisa sangat tegas di saat kritis.
        Pada gilirannya, penulis memprediksi saat itu, pemerintahan Megawaticenderung penuh kompromi, terbaca lamban, keputusan genial tak muncul, dankonsep tak terkomunikasikan dengan baik. Di sisi lain, meski penuh persoalan besar tetapi kestabilan meski kecil terasa di masyarakat. Pada sisi lain, kompromi politik memperkokoh kekuasaan, namun menurunkan pencitraan dan idealisme.
       Karena itu, bagaimana dengan babakan Drama tahun 2003-2004 yang penulis sebut babakan ketiga Opera Sabun Megawati?
       DALAM hukum dramaturgi klasik ala Aristoteles, dari sebuah babak drama ke babak selanjutnya senantiasa memiliki fase transisi penting yang disebut periode perekat . Yakni, periode peralihan yang dipenuhi aneka peristiwa yangharus mampu menarik hati penonton untuk terikat dan mencoba menerka akhir  puncak drama. Karena itu, periode 2003 adalah periode perekat yang menentukanwajah puncak drama 2004, yakni Pemilu. Maka menarik, memberi catatankecenderungan yang terjadi dewasa ini.
       Pertama, periode Megawati dipenuhi plot atau aneka peristiwa besar  penuh drama, dari penangkapan Tommy Soeharto, pengadilan tokoh politik, berpuncak tragedi Bom Bali. Sayang, meski babak ini dipenuhi drama besar,namun tidak memiliki tokoh atau kepahlawanan dari peristiwa itu. Inilah cacat besar drama politik Indonesia. Artinya, penonton drama politik kehilangankepemimpinan dan kepahlawanan yang mampu memecahkan masalah-masalah berbangsa. Akibatnya, lewat drama politik masyarakat tak mampu memahami nilai-nilai yang baik dan benar, nilai keteladanan, etika, dan kepahlawanan sebagaidasar berbangsa.
      Kedua, tokoh-tokoh politik tak mampu mengembangkan karakter dengancitra stereotipnya. Sebut, Amien Rais dan sikap selalu oposisi serta figur  pengguncang di tengah krisis peralihan.Padahal, yang diperlukan adalah pemandu bangsa. Hal ini berlaku pada sosok Wahid yang belum menemukan peran baru pascakepresidenan. Juga Akbar Tandjung yang belum mampu lepas dari dilema politiknya.
Ketiga, pada kondisi dan situasi semacam itu terbaca, meski Megawatitidak tumbuh sebagai sosok kepemimpinan yang kepopulerannya kian kuat, bahkan cenderung menurun, namun lawan-lawan politiknya mengalami pelemahankarakter. Artinya, pada wilayah akar rumput, masyarakat belum menemukan modelkepemimpinan yang lain, termasuk akar rumput partai Megawati sendiri.
        Celakanya, Partai-partai besar lainnya, meski kepemimpinannyamengalami pelemahan karakter, tidak juga memiliki alternatif kepemimpinan lain.Bisa diduga, strategi politik Megawati, Amien Rais, Hamzah Has, Akbar Tandjung,hingga Wahid, tidak menghadapi alternatif kepemimpinan, namun lebih padadilema suara-suara dalam partai sendiri, yang tidak puas atau menginginkan perubahan-perubahan, bahkan pilihan antara jalan prosedural demokrasi atau penggulingan kekuasaan.
PUNCAK drama dalam contoh klasik selalu diibaratkan sebagai pergumulan tokoh-tokoh mencari harta karun. Periode perekat adalah saat petaharta karun telah didapat, dan tempat harta karun telah di depan mata. Padanan iniamat menarik guna mengkaji aneka kecenderungan pada periode perekat ini.
         Pertama, seperti halnya kisah klasik sekelompok orang yang berburu hartakarun. Awalnya masih saling mendukung, berdialog, dan mencegah kelompok lainnya meraih kesempatan yang sama. Namun, menjelang puncak drama akantimbul berbagai agenda masing-masing individu untuk saling menjajaki danmengalahkan guna mengamankan jalan meraih harta karun. Maka, tahun 2003,aliansi kekuasaan pemerintah dan DPR maupun MPR, juga dalam kabinet, tumbuhdalam perseteruan baru. Tiap-tiap tokoh politik menjelang puncak drama akankembali ke kepentingan partai, golongan, dan kekuasaan, untuk memulai strategimeraih kekuasaan. Inilah babakan drama menjajaki kekuatan kekuasaan, menyusunaliansi baru, atau menggulingkan.
         Kedua, bisa diduga, berbagai bentuk konflik mendukung dan tidak mendukung Megawati, merupakan akibat kompromi dan pembagian kekuasaanyang dilakukan dan dijanjikan Megawati. Pada periode ini, perilaku militer akantampak: apakah menjaga agar perburuan harta dalam mekanisme demokrasi, atauikut berperan guna mendapat harta karun lewat dukungan pada kelompok yangmenguntungkan bagi kehidupan dalam aneka bentuk kekuasaan di masa depan.Sementara, mahasiswa dan LSM diuji perannya membawa suara dan energi rakyat,atau hanya mewakili kepentingan yang terpecah-belah.
         Periode perekat, dalam hukum drama, seperti karakter Dewa Janus,senantiasa berwajah dua. Di satu sisi, begitu dramatis membawa penonton ke puncak drama, seperti kemungkinan jatuhnya presiden. Di wajah lain, secara perlahan, namun penuh intensitas, secara kronologis membawa ke puncak dramaPemilu 2004 dalam adu strategi dan penjajakan kekuatan yang prosedural.
         YANG harus mendapat catatan tersendiri, kesuksesan Opera Sabun tak  pernah berdiri sendiri. Ia amat tergantung situasi dan kondisi psikologi keluarga-keluarga.
         Kenyataan menunjukkan, periode perekat drama politik Indonesia kali ini,dramaturginya bertumbuh di tengah situasi dan kondisi masyarakat yang penuhtekanan krisis, dipuncaki naiknya berbagai bahan pokok, serta gejolak demontrasi.
          Sebenarnya, drama besar senantiasa mengajarkan, periode perekat adalahmulainya ruang dan waktu strategi politik saling mengalahkan yang seringmenghalalkan segala cara. Dari permainan uang, pembagian kekuasaan, hingga penggunaan sentimen agama maupun ideologi, atau kelemahan pribadi, danstrategi mengelola berbagai bentuk ketidakpuasan rakyat serta penggunaan massa.Bahkan, ciri menarik, kesuksesan dan kejatuhan tokoh utama justru sering terletak  pada upaya politik dari tokoh terdekat dari tokoh utama, yakni lingkungan keluargaterdekat, seperti peran Taufik Kemas, dan lain-lain.
           Harus mendapat catatan sendiri, Opera sabun yang baik juga mengajarkantentang pertumbuhan babakan drama yang meski penuh drama besar tetapi diolah prosedur dramaturgi yang kuat, komunikatif, dan mematuhi kode etik. Ia memberi pengajaran tentang model kepahlawanan dan keteladanan, kemampuanmemecahkan masalah, perkembangan babakan-babakan politik yang mengandung pendidikan politik.
           Jika hal ini tidak terjadi, maka bisa terjadi masyarakat penonton OperaSabun Politik Indonesia bertumbuh bosan dan apatis terhadap dunia politik. Danmereka akan mudah menyalurkan ketidakpuasan dalam berbagai bentuk ekspresiyang mungkin penuh kekerasan, atau menggantungkan diri pada model-modelkekuasaan yang memberi kepastian, seperti model militerisme atau berbagai bentuk feodalisme dalam payung SARA.Selamat menonton dan menjadi bagian dari Megawati Opera Sabun III.
*Ensiklopedi Tokoh Indonesia
Garin Nugroho, Pengamat Media dan Budaya Kompas, 16 Januari 2003

 7.Tulisan yang menghepnotis (Joe Vitale, 2008.Hypnotic Writing. Pent: Tome Beka, Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)
•Libatkan pembaca. Semakin terlibat, pembacacenderung semakin tertarik dengan tulisan Anda.
•Beri pilihan. Pilihan memberi kesempatan pembacauntuk memikirkan keinginannya sendiri lalu tertarikuntuk mencari jawabnya pada tulisan Anda
•Puaskan ego mereka. Jangan bohong, beri sanjungandsb
•Beri tambahan. Setelah selesai membaca, berilahtambahan hadiah, dengan kata-kata yang takterduga.
•Pelihara rasa ingin tahu terus-menerus dalam tulisanAnda.
8.Epilog
Ikan kecil
”Maaf kawan’ kata seekor ikan lautkepada seekor ikan yang lain. ’Anda lebihtua dan lebih berpengalaman daripadasaya. Dimanakah saya dapat menemukanlaut? Saya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia saja!’’Laut’ kata ikan yang lebih tua, ’Adalahtempat engkau berenang sekarang ini.’’Ha?! Ini hanya air saja!. Yang kucari adalah laut,’ sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya ditempat lain.(A. De Mello SJ 2001.
Burung berkicau. Jakarta: Cipta Lokacaraka) Pontianak, 2 Mei 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar